Hotel Indonesia.

Hotel Indonesia dan Cerita Sukarno Menyambut Asian Games 1962 Terletak di antara dua jalan protokol Ibu Kota, Jalan Sudirman dan Jalan MH Thamrin, Hotel Indonesia sudah menjadi landmark atau ikon Jakarta. Bahkan, bundaran Patung Selamat Datang yang ada di depannya lebih dikenal dengan sebutan Bundaran Hotel Indonesia (HI).

Sama halnya dengan Monumen Nasional (Monas), berfoto di Bundaran HI menjadi syarat wajib bagi seseorang yang mengaku sudah menginjakkan kaki di Jakarta. Unjuk rasa pun belum akan dianggap keren kalau tak digelar di kawasan jantung Ibu Kota ini.

Bahkan, potongan gambar yang menampilkan Bundaran HI kerap bersileweran di banyak film atau sinetron layar kaca, walaupun cerita yang diangkat tak ada hubungannya dengan lokasi tersebut. Ringkasnya, monumen di bundaran itu serta Hotel Indonesia di latar belakangnya sudah menjadi identitas Jakarta.

Hotel Indonesia adalah hotel berbintang pertama yang dibangun di Jakarta. Gagasan membangun hotel ini tidak datang secara tiba-tiba, melainkan berdasarkan perencanaan matang dari Presiden Sukarno.

Pada September 1960, Sukarno berkunjung ke Amerika Serikat untuk berbicara di forum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Saat tiba di New York, Sukarno terkagum-kagum melihat Markas PBB yang megah itu.

Ketika itu Sukarno teringat kalau dua tahun lagi (1962) Indonesia akan menjadi tuan rumah perhelatan Asian Games IV, sementara Ibu Kota belum memiliki bangunan yang layak untuk dibanggakan di hadapan para atlet se-Asia.

Seketika itu juga Sukarno terpikir untuk membangun sebuah hotel yang bisa menjadi kebanggaan Indonesia nantinya. Dia pun mencari tahu arsitek yang membangun Markas PBB, Abel Sorensen. Tak menunggu lama, Sorensen bertemu dengan Sukarno dan bersedia memenuhi keinginan Presiden RI pertama itu untuk membangun hotel berstandar dunia pertama di Indonesia.

Tahun itu juga, bersama istrinya Wendy, Sorensen mulai bekerja membuat sebuah hotel dengan luas 25.085 meter persegi. Lantai 15 Ramayana Wing dan lantai 8 Ganesha Wing adalah bagian pertama dari hotel yang dibangun.

Sorensen akhirnya berhasil menciptakan Hotel Indonesia sebagai hotel yang modern dan efisien. Hotel tersebut menunjukkan unsur-unsur arsitektur lokal (Sumatera Barat) yang dicampur dalam nuansa modern arsitektur Indonesia. Demikian pula relief kehidupan di Bali seluas 68 meter yang dikerjakan 53 seniman yang hingga kini tetap terjaga pahatannya.

Sesuai dengan keinginan Sukarno, Hotel Indonesia diresmikan pada 5 Agustus 1962 atau sesaat menjelang Asian Games IV yang digelar 24 Agustus-4 September 1962. Dalam pidato peresmian, Sukarno menyebut hotel 16 lantai dengan 500 kamar tidur itu sebagai wajah terdepan Indonesia.

Kini, Hotel Indonesia Kempinski kembali menyambut euforia Asian Games. Meneruskan sejarah yang ada, untuk menyambut Asian Games 2018 yang akan digelar mulai 18 Agustus mendatang, Hotel Indonesia Kempinski menggelar pameran olahraga.

“Pameran ini menampilkan beberapa medali dari prestasi para atlet Indonesia, diadakan pada 15 Agustus hingga 2 September di lobi utama Hotel Indonesia Kempinski,” jelas Public Relations Executive Hotel Indonesia Kempinski, Ananda Wondo kepada Liputan6.com, Senin (6/8/2018).

Selain itu, digelar pula fashion show dan pameran busana The Glory of Palembang yang menampilkan busana khas Palembang. Pameran busana yang diadakan pada 23 Agustus hingga 2 September tersebut digelar di Pelataran Ramayana.

Bukan sebuah impian semata, karena hingga kini Hotel Indonesia tetap menjadi wajah terdepan Ibu Kota. Banyak sudah sejarah dicatat hotel ini.

Artikel Terbaru Dari Daftar Virtual Sport Maxbet

Apabila Anda memiliki komentar/pertanyaan, silahkan hubungi Costumer Service Kami 988BET melalui bantuan yang tersedia atau livechat langsung dengan kami.

SMS/Telp : +855 977 699 180
Whatsapp : 0812 91 8888 08
PIN BBM : D62477FB
Line : 988BET

DAPATKAN BONUS SPECIAL NEW MEMBER 30% DAFTAR SEKARANG JUGA !!

Tags: , , , ,